Kau Sang Pengembara,

Berapa hati telah kau lewati ?

Puluhan…

Mungkinkah ratusan ?

Kau Sang Pengembara,

Tak pernah berhenti mencari ‘sejati’

Pelabuhan…

Mungkinkah hanya kesenangan ?

Kau Sang Pengembara,

Berapa banyak yang kau lihat,

Berapa banyak kau temui ?

Berapa banyak yang kau harap,

Berapa banyak kau dapati ?

Kau Sang Pengembara,

Hidupmu penuh warna silih berganti

Jiwamu berkelana datang dan pergi

Maka…

Kau tak menyadari ada dia

Yang selalu bergetar menyebut namamu dalam doa

Yang terus menanti tanpa berani berharap

Dalam cinta yang mantab menatap.

Kalau hatinya dari beling,

Mengapa tidak pecah terbanting ?

Kalau hatinya dari kayu,

Mengapa tak lapuk dimakan waktu ?

Kalau hatinya dari besi,

Mengapa tak berkarat lama menanti  ?

”Hatimu dari emas, kau logam mulia yang stabil”, katamu akhirnya.

Ketika kesejukannya mengalir seperti air,

Kelembutannya menyelusup diantara bebatuan keangkuhanmu.

”Kau satu-satunya perempuan sempurna yang pernah kutemui.

Mengapa tak kutemukan kau sejak dulu ?

Aku mencintaimu…”, katamu pasrah.

Mungkinkah kau menyerah ?

Atau kau telah lelah ?

Betulkah kau akan berhenti disini…

Damai dalam doa yang selalu bergetar saat menyebut namamu…

(Tak ada cinta yang terlambat… Sebab cinta datang tepat pada waktunya).