Titik terendah atau yang populer disebut the lowest point, seringkali menjadi posisi yang dihindari banyak orang. Secara  strategis tidak akan menguntungkan. Tetapi bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan.

Paul Arden, penulis buku kontroversial, It's not How Good You Are, It's How Good You Want to be, menulis bahwa titik terendah seringkali menjadi posisi terbaik untuk beriklan atau mempromosikan diri kita.

Misalnya saja Bali sesaat setelah peristiwa bom hingga 2 kali, secara perlahan dan pasti terasa semakin sepi. Hampir semua industri pariwisata berteriak karena bisnis menurun secara drastis.
Tingkat hunian hotel banyak yang hanya di bawah 20%.

Hal itu dirasakan oleh Kafi Kurnia ketika mengunjungi Bali pasca teror Bom. Ketika tiba di depan hotel, dia disambut secara ramah dan luar biasa. Guest  relations hotel malah memberikan pelayanan istimewa. Kamar hotelnya di-"upgrade" ke tingkat yang lebih mewah. Tapi, ketika esoknya  membayar biaya kamar, dia kaget bukan main. Harganya cuma Rp 600.000  nett, sudah termasuk pajak dan makan pagi.

Murah sekali. Ini harga 50%  dari biasanya. Ongkos sewa mobil ternyata juga turun drastis.

Restoran-restoranpun mengalami hal yang sama.

Uniknya, karena situasi sepi ini, kualitas pelayanan naik tajam. Hal ini bisa dirasakan ketika makan di restoran dan berbelanja. Pengunjung mendapat pelayanan khusus… Lebih diperhatikan.
Sepulang dari Bali, Kafi Kurnia kirim e-mail ke teman-temannya yang doyan pelesir ke Bali, satu di Milan, satu di Amerika, dan satu lagi di Singapura. Berkat cerita Kafi Kurnia yang menggiurkan, akhirnya mereka semua langsung ingin berlibur di Bali bulan depannya. Ya… andaikata pemerintah memanfaatkan nasihat Paul Arden, dan mempromosikan Bali di titik terendah ini, maka situasi Bali justru akan cepat pulih. Sayangnya, pemerintah lebih kelihatan kehilangan akal.

Bob Sadino, pemilik pasar swalayan terkenal Kem Chicks, pernah bercerita. Katanya, harga cabe di pasar seringkali tidak stabil. Pasar sering mengeluh banyak pasokan dan harga cabe jatuh. Tidak jarang pasokan menjadi terlampau banyak dan cabe membusuk.
Menurut pengamatan Pak Bob Sadino, hal ini terjadi karena petani gagal
memanfaatkan titik terendah.

Umumnya petani bergairah ikut menanam cabe ketika harganya sedang naik karena pasokan rendah. Malah petani tidak jarang berebut menanam cabe ketika harga cabe sedang berada di titik tertinggi. Akibatnya, ketika mereka rame-rame panen, pasokan cabe berlimpah, dan harga cabe mau tak mau ambruk. Andai kata mereka jeli, justru mereka harus menanam cabe pada saat cabe berada di titik harga terendah. Ketika panen, harga cabe akan berada di titik tinggi karena pasokan kurang.

Teori Paul Arden memang ampuh. Titik terendah bukanlah situasi yang ideal. Tetapi titik terendah punya peluang yang unik dimanfaatkan.
Yaitu situasi kondusif untuk berpromosi. Seorang dosen komunikasi pernah
memberikan nasihat unik. Menurut beliau, bayangkan di sebuah ruangan yang penuh sesak dengan orang. Dan semua orang berbicara hiruk-pikuk. Ruangan akan sangat ribut, dan saat itu proses komunikasi akan sangat sulit karena kita harus bicara keras-keras. Menguras energi dan membuat tenggorokan lecet.

Tapi, sebaliknya, kalau pada titik terendah, ketika semua orang diam. Lalu hanya satu orang berbicara. Mungkin orang itu cukup berbicara pelan saja, tapi semua orang akan mendengar dan menyimak. Semua atensi ditujukan pada pembicara. Komunikasi berjalan lancar.

Jadi, kalau Anda berada di titik terendah, jangan putus asa. Manfaatkan!

God Bless Us Forever !!!

(Ter-inspirasi cerita Kafi Kurnia)