Tulisan ini diringkas dari “My American Journey”, Collin Powell yang diterbitkan oleh Random House Inc. New York).

Saat itu Pukul 01.00 suatu pagi yang dingin di bulan April. Aku adalah Letnan
Kolonel yang membawahi suatu batalyon dalam suatu latihan di Korea. Selama seminggu, kami tidur disiang hari dan latihan di malam hari.

Latihan berakhir.

Para prajurit menunggu diangkut oleh truk kembali ke camp. Aku menerima berita bahwa Divisi kekurangan BBM untuk mengangkut batalyon kembali sejauh 20 mil ke camp. Kami harus berjalan kaki.

Para prajurit dengan kesusahan berdiri dan mulai berjalan. Terlalu capai untuk mengeluh.
Kami sedang melalui suatu desa Korea, ketika Kapten Harry ‘Skip’ Mohr melambat untuk berbicara padaku. “Hanya tinggal 12 mil lebih sedikit”, katanya bersemangat. “Jika kita berjalan cepat, kita dapat menyelesaikannya dalam 3 jam, dan kemudian meminta kualifikasi untuk E.I.B. (Expert Infantryman Badge (Badge / Tanda Infantry Ahli)”.
Skip Mohr mengetahui aku sedang mencoba memasukkan sebanyak mungkin prajurit untuk mendapatkan EIB, yang biasanya sangat sulit didapat. Kami telah memenuhi persyaratan latihan fisik, di samping pembacaan peta, navigasi dan test lainnya. Rintangan yang tersisa hanya pendakian 12 mil dalam 3 jam. Aku melihat medan yang turun naik.
“Skip, kamu bercanda” kataku padanya.

“Pak, medan relatif datar hingga 2 mil terakhir. Saya mengetahui orang-orang kita. Mereka dapat melakukannya”.
Perintah untuk berjalan sesuai irama terdengar di sana sini. Dalam dua jam kemudian, keringat mengucuri wajah pada malam yang beku, dan gerakan dan bunyi nafas dari ratusan orang terdengar seperti angin. Kami menghadapi satu bukit curam terakhir sebelum masuk ke camp. Aku tidak mengetahui bagaimana orang-orang tersebut akan melakukannya.
Kemudian disebelah depan, aku mendengar suara-suara orang menghitung irama, hingga bukit seakan bernyanyi nyanyian batalyon.

Ketika kami melalui gerbang memasuki camp, Komandan Jenderal keluar dari ruangannya mengenakan baju mandinya, keheranan ketika 700 orang lewat dihadapannya.

Lebih banyak prajurit yang memenuhi kualifiaski EIB dari batalyon kami diantara 3 batalyon yang berdekatan. Dan pemandangan dari prajurit yang kelelahan yang kemudian meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang bersemangat adalah sebuah kenangan yang berharga dalam hidupku.
Selama bertahun-tahun dilapangan, aku mempelajari bagaimana prajurit AS
bergerak. Mereka menghormati PIMPINAN YANG MEMBERI MEREKA STANDAR YANG TINGGI DAN MEMBAWA MEREKA HINGGA BATAS KEMAMPUAN – selama mereka meilihat adanya tujuan yang berharga bagi mereka.