Abu Bakar As-shidiq.
Hatiku selalu terpesona menyebut namanya. Degup kagum dan bangga, sampai memunculkan kubangan di mata.
Dia yang meyakini dan selalu mendukung Rasululloh SAW sejak wahyu pertama turun. Dia termasuk Assabiqunal awwalun.
Ini adalah kisah yang mengundang kagumku pada Abu Bakar.
Pandangan tajam managerial Rasululloh SAW, membuat beliau langsung menunjuk ‘Amr ibn Al ‘Ash menjadi komandan satuan, yang di dalamnya terdapat para sahabat senior, termasuk Abu Bakar dan Umar Bin Khattab. Padahal waktu itu ‘Amr baru saja masuk Islam.
Malamnya, saat mereka berkemah, tiba-tiba ‘Amr memerintahkan mereka memadamkan semua api. Umar tersinggung karena saat itu beberapa orang sedang memasak dan terlihat pasukan yang kedinginan.

“Tidak… Jangan matikan apinya!”, seru Umar.

Abu bakar yang ada di sampingnya langsung menegur. “Umar, ‘Amr adalah pemimpin yang langsung ditunjuk oleh Rosul kita. Taatlah pada ALLOH, RosulNYA dan pemimpinmu!”.

Umar menggerutu, tapi beberapa saat kemudian Umar menyadari bahwa ‘Amr benar. Bunyi ringkik dan tapak kaki ratusan kuda musuh, terdengar begitu mengerikan. Musuh lewat begitu saja tanpa mengetahui keberadaan mereka. Abu Bakar pun tersenyum.
Hari berikutnya, ‘Amr memerintahkan pasukannya berhenti di luar perkampungan kabilah yang akan ditundukkan. “Aku akan masuk. Jika aku tak kembali hingga matahari tergelincir, kalian serbulah ke dalam!”.
Umar kembali protes, “Jika kau ingin syahid, kami semua juga! Tetaplah kita bersama”.
Dengan lirilannya, kembali Abu Bakar mengingatkan Umar dan Umar-pun patuh.
Beberapa waktu kemudian, ‘Amr telah kembali bersama pemimpin kabilah yang telah masuk Islam bersama pengikutnya. Atas diplomasi ‘Amr, kabilah itu tunduk tanpa setetes darahpun tertumpah.
Seandainya kita yang jadi Abu Bakar, mungkin saja kita akan bilang pada Umar, “Naaaah, apa juga gue bilang, kan?
Abu Bakar… Pribadinya, membuat hatiku terpesona.