Semuanya itu disadari Haris pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia – sia belaka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya, Intan di suatu sore.

3 minggu yang lalu Haris membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham. Pada saat Haris memeriksa pekerjaannya, Intan putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, “Ayah lihat !”

Haris menengok kearahnya dan berkata, “Wah, buku baru ya ?”

“Ya Ayah !” katanya berseri-seri, “Bacain dong !”

“Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh”, kata Haris dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Intan hanya berdiri terpaku disamping Haris sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat – buat mulai merayu kembali “Tapi mama bilang Ayah akan membacakannya untuk Intan”.

Dengan perasaan agak kesal Haris menjawab: “Intan dengar, Ayah sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya”.

“Tapi Mama lebih sibuk daripada Ayah” katanya sendu. “Lihat Ayah, gambarnya bagus dan lucu.”

“Lain kali Intan, sana. Ayah sedang banyak kerjaan.”

Haris berusaha untuk tidak memperhatikan Intan lagi. Waktu berlalu, Intan masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Tiba-tiba Intan mulai lagi “Tapi Ayah, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus ! Ayah pasti akan suka”.

“Intan, sekali lagi Ayah bilang : Lain kali !” dengan agak keras Haris membentak anaknya. Hampir menangis Intan mulai menjauh, “Iya deh,  lain kali ya Ayah, lain kali”. Tapi Intan kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata “Kapan saja Ayah ada waktu ya, Ayah tidak usah baca untuk Intan, baca saja untuk Ayah. Tapi kalau Ayah bisa, bacanya yang keras ya, supaya Intan juga bisa ikut dengar”. Haris hanya diam.

Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran Haris. Haris teringat akan Intan yang dengan penuh pengertian mengalah. Intan yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil di atas tangannya yang kasar mengatakan: “Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Ayah, supaya Intan bisa ikut dengar”. Dan karena itulah Haris mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Intan di pojok ruangan. Haris mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. Haris sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan  kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. Haris terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin. Sambil berharap cukup keras bagi Intan untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir…