Ketika itu, pada suatu hari…

Semua nampak indah secerah mentari

Hatiku-pun seperti seorang Putri

Yang terlarang disakiti.

Ketika itu, pada suatu hari…

Hidupku makin berwarna seindah pelangi

Desir angin di sela dedaunan

Gemericik air di antara bebatuan

Bisik serangga di padang ilalang

Adalah dzikir penuh cinta pada Sang Maha Rahman

Ketika itu, pada suatu hari…

Aku mulai mengenal melodi

Turun naik – rendah dan tinggi

Hatiku berontak, mencoba mengingkari

Hatiku menolak, tak ikhlas menghadapi

Lalu’Sang Maha Guru’ datang membuatku mengerti

Inilah nada shimponi…

Ketika itu, pada suatu hari…

Sedikit demi sedikit aku mencoba memahami.

Lalu mengalunlah dzikirku setiap pagi :

Allohumma bika asbahna, wa bika amsaena

Wa bika nahya, wa bika namuut

Wa ilaikannusur…

Aku tak ingin menolak taqdir-MU ya Rabbi,

Aku hanya mohon kekuatan untuk menghadapi.

Suaraku tak hilang di nada rendah

Pun tergapai nada yang tinggi

Anta maulana, Ya Azis…

BagiMU tak ada yang tak mungkin.

Ketika itu, pada suatu hari…

Aku mulai menyadari.