Sosok Septinus George SAA yang akrab dipanggil Oge mungkin bisa disebut sebagai gabungan dari remaja yang  punya kemauan serta kepercayaan diri tinggi, keingintahuannya besar, dan ulet mencari celah untuk mengatasi hambatan. Sekolah bagi Oge sangat menyenangkan. Ia akan merasa rugi besar jika sampai harus  bolos sekolah, entah karena tak punya ongkos jalan atau karena harus membantu ayah di ladang. Untuk mengungkapkan kekesalannya karena  tak  bisa bersekolah, Oge pernah menangis berjam – jam saat duduk di  bangku sekolah dasar. Kerapnya orangtua Oge terpaksa menunggak SPP  juga tak membuat dirinya kehilangan semangat sekolah. Bukan hanya urusan ongkos jalan dan SPP saja yang dihadapi Oge sepanjang duduk di bangku sekolah, bahkan buku cetak pegangan di  kelas yang harus dimiliki murid juga sering tak dimilikinya.Tetapi,  dasar otak encer, ia tenang saja menyerap seluruh pelajaran dengan  otaknya. Prestasinya di kelas sejak SD membuat gurunya menawari Oge  untuk langsung ikut ujian kelas enam, padahal saat itu ia baru kelas empat. Keruan ibu Oge, Nelce Wafom, melarangnya menerima tawaran  itu, bukan saja karena sang kakak di kelas enam, tetapi Nelce juga menginginkan Oge berkembang sesuai dengan umurnya.

Orang tak akan mengira, Oge yang sekarang remaja 18 tahun ini, yang kerap terpaksa tidak masuk sekolah – karena orangtuanya tak mampu memberi ongkos jalan Rp 1.500 untuk perjalanan 10 km antara rumah dan sekolah – ini mampu unjuk gigi di arena internasional  tingkat pelajar. Medali emas “The First Step to Nobel Prize in Physics 2004” disabetnya lewat hasil experimen fisikanya. Karya ilmiah tersebut berhasil menyisihkan ratusan makalah lainnya dari 73 negara. Bahkan 30 juri dari 25 negara yang diketuai Prof. Waldemar Gorzkowzski dari Polandia yang memberikan penilaian, tak ada satupun yang menentang.

Hasil penelitian Oge sebenarnya sederhana, tetapi bisa mempunyai manfaat kelak jika dikembangkan lebih jauh. Lewat tulisannya di harian Kompas, Dr Kebamoto, ahli fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, menilai eksperimen fisika Oge ini boleh jadi akan menjadi langkah awal pengungkapan misteri struktur sarang tawon yang berbentuk heksagon. Struktur sarang tawon dikenal bisa membuat berbagai material-seperti grafit atau nanokomposit-menjadi memiliki sifat fisika yang aneh -aneh, seperti daya hantar listrik tinggi, tahan terhadap suhu tinggi, dan kekuatan mekaniknya 500 kali dari baja. Padahal, pada bahan yang sama, jika strukturnya tak sarang tawon, sifat fisika seperti disebut di atas tidak akan tampak.

Bisa dibayangkan, seorang murid kelas 3 SMU Negeri Buper, Jayapura, bisa menurunkan persamaan rumit itu ke dalam formula sederhana. Dengan rumusnya itu, ia bisa menghitung hambatan (resistensi) di antara dua titik dalam sebuah rangkaian sarang tawon. Padahal, menurut Kebamoto, karena rumit dan solusi analitisnya sulit ditentukan, Oge harus belajar terlebih dulu soal analisis numerik dan program komputer yang bisa menyelesaikan kasus itu. Semua ini biasanya baru dipelajari mahasiswa tahun ke-3.

Perjalanan hidup Oge membuat rumus yang layak ia klaim sebagai “George Saa Formula” sebenarnya berawal dari terpilihnya ia bersama dengan empat siswa lain oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk ikut Olimpiade Fisika. Saat itulah ia mulai berkenalan dengan pelatihan tiga bulan yang dilakukan Tim Olimpiade Fisika di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang. Hasilnya, ia dikirim keIndia, mengikuti lomba fisika, di mana Oge memperoleh gelar honourable. Berikutnya, ia menghasilkan makalah berjudul “Apakah Elektron merupakan Partikel atau Gelombang?” yang merupakan hasil tinjauan ulang atas berbagai makalah yang pernah ditulis sejumlah ilmuwan. Dari makalah yang dinilai biasa saja, tetapi penjelasan dan cara menyimpulkannya menarik. Yohanes Surya-guru besar UPH yang juga Ketua Tim Olimpiade Fisika-mulai melihat adanya potensi pada diri Oge. Dari situlah, Oge mulai meneliti soal penghitungan hambatan pada struktur sarang tawon.

Jika menilik ke belakang, apa yang dihasilkan Oge bukannya tanpa hambatan. Untuk mengikuti lomba ilmiah tingkat pelajar di luar daerahnya bukanlah hal mudah. Beruntung ia memiliki kakak yang bisa diajak “bersekutu”. Adalah Franky Albert Saa, kakak Oge yang tertua, yang secara diam-diam mempersiapkan kepergian adiknya ke Jakarta setelah Oge menjuarai lomba Olimpiade Kimia tingkat daerah tahun 2001. Sang ibu rupanya tidak rela berpisah dari si bungsu yang dilahirkan 22 September 1986 ini. Persis menjelang Oge akan melangkah menuju pesawat, baru kabar itu disampaikan kepada Nelce. Keruan tangis Nelce pun pecah dan itu berlangsung sampai dua pekan.

Bagi Oge, masa sulit bersekolah praktis terlewati begitu ia diterima di SMUN 3 Buper Jayapura, sebuah sekolah unggulan milik Pemerintah Provinsi Papua, yang dikhususkan untuk menampung siswa berprestasi. Di sekolah itu pula, Oge mulai mengenal internet, yang menjadi sumber inspirasi penulisan risetnya. Dari internet juga, ia mendapat bermacam-macam teori, temuan, dan hasil penelitian para ahli fisika dunia yang mengilhami Oge dalam menurunkan rumusnya. Itulah yang membuat dia berkomentar, “UANG BUKAN SEGALA-GALANYA UNTUK MAJU. SELALUADA JALAN UNTUK MENIMBA ILMU.” Karena itu pula, ia berharap para remaja Papua juga dapat melakukan hal serupa dan tidak perlu resah dengan urusan uang. “ORANG PAPUA BANYAK YANG HEBAT DAN MEMILIKI OTAK BRILIAN. TETAPI, MEREKA SELALU MELIHAT UANG SEBAGAI HAMBATAN. PADAHAL, YANG PENTING KAN KEMAUAN DAN SEMANGAT KERJA KERAS,” ujar remaja yang juga mendapat kesempatan belajar riset di PolishAcademy ofScience di Polandia selama satu bulan.

Kesempatan itu tentu saja amat diimpi – impikan Oge yang bercita-cita meraih Nobel bidang fisika kelak. “Saya memang masih harus bekerja keras, disiplin, dan terus mencari yang terbaik untuk sampai kesana,” katanya.

Kini hari – hari Oge tidak hanya disibukkan dengan belajar, mengasah kemampuannya, tetapi juga menghadiri berbagai acara yang sifatnya seremonial. Suatu kali pernah ia harus hadir atas undangan Gubernur Papua JP Solossa guna bertatap muka dengan para guru dan murid se-Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom di Kantor Balai Pelatihan Guru di Kota Raja, Jayapura. Dalam acara yang terkait dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional itu, Solossa memujinya dengan mengatakan, “DIA TIDAK HANYA MEMBAWA NAMA BESAR PAPUA, TETAPI MENGANGKAT NAMA BANGSA INDONESIA DI DUNIA INTERNASIONAL. INI SATU KEBANGGAAN LUAR BIASA. PAPUA YANG SELALU DIKONOTASIKAN DENGAN KEMISKINAN, TELANJANG, DAN BODOH TERNYATA PUNYA PUTRA ASLI YANG GENIUS,” kata Solossa disambut tepuk tangan…………..

(There’s a miracle if we believe… inspiratif).