Bohong Putih ?

Apa sih bohong putih itu ?

Emangnya ada ?

Bukankah dalam hadits sudah dijelaskan bahwa, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat.” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut sudah ditegaskan bahwa bohong adalah salah satu dari tiga tanda orang munafik. Bohon itu haram ! Lalu apakah setiap Muslim itu tidak boleh berbohong sama sekali ?

Tunggu dulu…

“Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada istrinya.” (HR. Ahmad)


Nah, sebagaimana hadits tersebut, maka bohong Putih merupakan bentuk kebohongan yang secara umum dipandang sebagai kebohongan yang baik atau yang dibenarkan. Umumnya para pelaku bohong putih menjadikan keterpaksaan sebagai alasan utama mereka. Jadi mereka berbohong karena terpaksa.
Rasulullah Saw memperbolehkan berbohong dalam perang. Hal ini mudah dimengerti, sebab jujur dalam peperangan sangat tidak masuk akal.
Berbohong untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa juga diperbolehkan. Berbohong dilakukan untuk meredam api kemarahan yang sedang berkobar. Bukankah masalah akan lebih mudah diselesaikan bila api kemarahan sudah padam.

Selanjutnya bila dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami boleh berdusta kepada istri untuk memelihara kerukunan. Misalnya seorang suami mengatakan bahwa masakan istrinya sangat enak, padahal sebenarnya terlalu asin.
Sebenarnya, bohong itu tidak pernah menjadi perbuatan yang benar, tapi dalam kondisi-kondisi tertentu, Allah memaafkan dan mengampuni dosa mereka yang berbohong. Kondisi-kondisi tertentu itu antara lain seperti yang diperbolehkan Rasulullah dalam hadits yang saya kutip di atas.
Kita mengatakannya sebagai bohong putih, meski sebenarnya kita tidak menemukan istilah Bohong Putih dalam terminologi Islam.