Ada sebuah ungkapan, ”Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.”

Manusia bukanlah ‘makhluk bumi’ melainkan ‘makhluk langit’.

Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ‘rumah’ tubuh ini untuk mencari ‘rumah’ yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Ingat… Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau menyadari hal ini, kita tidak akan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Tapi bukan berarti harus menumpuk-numpuk dan menimbun.

Bila sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!

Tak perlu sampai merusak jiwa kita sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa ini milik kita yang akan tetap hidup hingga menghadap Sang Khaliq nantinya.

‘Wahai Jiwa Yang Tenang, kembalilah kepada TUHANmu dengan hati yang puas lagi di-ridhoi’ (Al Fajr 26-27).