Bicara tentang IQ dan EQ, keduanya tidak berlawanan, tapi berinteraksi secara dinamis. Idealnya, seseorang dapat menguasai kecerdasan intelektual, sekaligus ketrampilan sosial dan emosional. Beberapa tokoh dunia dikenal sebagai jenius sejati sekaligus penuh empati. Ada pula yang mampu memimpin negara dengan betul-betul mengandalkan EQ-nya. Presiden Franklin Delano Roosevelt disebut memiliki ‘kecerdasan kelas dua, namun kematangan emosi kelas satu’. Banyak orang berpendapat, bahwa kepribadian Roosevelt yang dinamis dan optimisnya luar biasa ini, merupakan faktor paling penting dalam memimpin Amerika mengatasi masa-masa kritis jaman depresi dan Peran Dunia II. Hal yang sama juga terjadi pada John F Kennedy. Menurut para sejarawan, John F Kennedy lebih banyak memimpin Amerika dengan hatinya ketimbang dengan kepalanya.
So, IQ dan EQ bukanlah lawan dan keduanya sama-sama penting. Bedanya, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor genetis, sehingga membuka kesempatan bagi para orang tua dan pendidik untuk membantu mengasahnya, sehingga anak mempunyai peluang lebih besar untuk mencapai keberhasilan.