Betapa bahagianya saya dapat mengenal dan ngobrol ngalor ngidul dengan Budayawan hebat yang satu ini… Zawawi Imron.

Memang sudah berumur dan berjalan dengan bantuan tomgkat.

Tapi kalau sudah mulai membaca puisi, wuaaaaah… beliau langsung lupa dengan tongkatnya hehehe…

Zawawi Imron mulai dikenal sebagai penyair sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman lsmail Marzuki, 1982. Tahun itu juga terbit kumpulan puisinya yang pertama, Bulan Tertusuk Lalang, yang menjadi inspirasi dasar bagi pembuatan film Bulan Tertusuk llalang, karya Garin Nugroho. Salah satu puisinya dalam kumpulan itu juga memperkuat film Cinta dalam Sepotong Roti, juga karya Garin. Tahun 1987 kumpulan puisinya, Nenek Moyangku Airmata, mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama. Tahun 1990 dua buku puisinya, Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata, terpilih sebagai buku terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tahun 1994 terbit kumpulan puisinya, Berlayar di Pamor Badik.

Saat ini ia masih tinggal di Batang-batang, kampung halamannya di Madura.
Satu kalimat dalam puisinya yang sangat berkesan saat ketemu beliau adalah…

‘Jejakku kutinggal disini, namun senyummu kubawa pulang’.

Wadauuuuuuu…..