Selcuk…

Nama sebuahkotadi Turky yang semula hanya saya kenal dari nama sebuah sosis yang teramat sangat enak. Sosis ini belum pernah saya jumpai diIndonesia. Adik saya yang Idda yang lama tinggal di Worcester paling senang dengan sosis ini, maka ketika saya berangkat ke Turky, serta merta dia bilang, “Ingat, sampai di Turky wajib beli sosis Selcuk”.

Siyaaaaps !

 

Hari itu, alhamdulillaah saya diijinkan ALLOH SWT menapakkan kaki dikotatua Selcuk ini. Salah satu tujuan saya adalah St. John Basilica, yang merupakan salah satu gereja atau tepatnya reruntuhan gereja tertua di Selcuk. Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit dengan sedikit menaiki bukit, St. John Basilika yang sudah menjadi museum ini, terlihat tinggal pilar-pilar dan reruntuhannya saja. Namun dar sisa-sisa yang sekarang ini terlihat, bias dibayangkan, betapa anggun dan megahnya gereja ini dahulu.

 

Dengan membayar tiket 5 Lira, kita dapat masuk ke kompleks Basilika yang sekarang memang tinggal puing-puing saja. Hanya ada beberapa bagian dinding dan tiang-tiangnya yang masih utuh. Selain itu, di tempat ini juga ada makamSt. Johnatau Yohanes Pembaptis.

Sebuah papan keterangan dalam bahasa Turki dan Inggris menjelaskan sejarah basilika ini. Dalam bahasa Turki,St. Johnatau Santo Yohanes disebut sebagai Aziz Yahya. Menurut papan keterangan, Basilika yang berisi makam St. John  ini dibangun pada abad ke-6 oleh Kaisar Justinian dan Ratu Theodora menggantikan gereja tua beratapkan kayu yang sudah dalam kondisi rusak pada saat itu. Basilika ini dibangun dengan enam buah kubah megah dan berbentuk salib dengan ukuran sangat besar, yaitu 130×65 meter. Wouw…

Karena kemegahannya, maka Basilika ini pun menjadi salah satu pusat ziarah umat Kristiani pada waktu itu dan merupakan bangunan termegah yang dibangun setelahTempleofArthemis di Efesus.

 

Pada saat Selcuk jatuh ke tangan dinasti Utsmaniah pada awal abad ke-14, sebagian Basilika diubah menjadi masjid. Namun, sebuah gempa bumi yang dashyat pada tahun 1365 membuat bangunan ini runtuh. Penggalian baru dimulai lagi apada awal abad ke-20 dan sampai saat ini hanya sebagian dinding dan tiang yang dapat kita saksikan.